RSS

Hari Ibu yang Sepi

Cerpenku yang ini dimuat di majalah Colibri Edisi-2 12 Mei 2011. Majalah Kolibri merupakan majalah sekolahku SMA Negeri 1 Negara. Selamat Membaca ^^.



Hari Ibu yang Sepi
Oleh : N. A. Putri

Di hari yang cerah itu, Heni berangkat ke sekolah bersama teman – temannya, Rika, Andin dan Tika.
“Oh ya, besok lusa hari ibu kan ?!” kata Heni.
“He’eh bener banget. Mau ngasih apa ya buat mama ?” tanggap Andin
“Alah gaya kamu pake mama – mama-an, biasanya juga emak!” protes Tika
“Ssst…jangan bikin jelek image dong!” bantah Andin.
“Udah – udah kalian ribut wae kerjaannya ! jadi mau ngasih apa?” Rika menengahi.
“Aku pengen cuci kaki ibuku aja deh, boke’ nih. Toh lebih berpahala tho?!” jawab Heni dengan logat Jawa yang dibuat – buat.
“Ah..dasar lu! Tapi boleh juga ding,” sahut Rika.
“Ngikut aja lu!” jawab Andin dan Rika.
“Yang penting asyik lah!”sahut mereka bersamaan.
Mereka pun sampai di sekolah dan belajar seperti biasannya. Ibu guru wali kelas pun datang dan mengumumkan diadakannya lomba nyanyi antar sekolah yang boleh diikuti murid mana saja. Lomba ini diadakan untuk memeriahkan hari ibu. Dan yang paling penting adalah ibu mereka harus datang biar lebih semangat gitu nyanyinya. Nah yang seru adalah kalau anaknya menang, ibunya yang dapat hadiah. Heni berniat untuk mengikuti lomba itu dan membuat ibunya bangga dengan suara dan permainan pianonya. Teman – temannya juga berniat untuk ikut, katanya untuk coba – coba siapa tahu bisa dapat hadiah hiburan.

***
Hari minngu yang cerah, Heni mengantar ibunya untuk berbelanja keperluan sehari – hari. Heni melihat baju bagus berwarna biru kesukaanya. Heni sangat menginginkanya, tapi sayang ibu tak mengizinkan Heni untuk memilikinya. Ibu pelit, umpatnya dalam hati. Heni berlari meninggalkan ibunya begitu saja dengan perasaan kesal. Dia berlari tak melihat sekelilingnya dan menabrak apapun yang dilihatnya. Terakhir dia hanya mendengar suara ibu yang menjerit memanggil namanya. Dan ‘BRAKKK’, Heni terseret kepinggir jalan. Heni melihat orang – orang sekitar menatapnya cemas dan mengerumuni sesuatu. Heni berjalan terseok menuju kerumunan itu dan mendapati ibunya tergolek lemah, berlumuran darah dan tak sadarkan diri. Heni menghambur ke arahnya, menjerit dan menangis. Menyesali dirinya yang begitu bodoh. Tak lama ambulan datang dan membawa mereka berdua ke rumah sakit.
Di perjalanan Heni menangis dan terus menjerit, “Ibu, bangun bu! Katakan sesuatu. Maafin Heni bu. Ibu….hua…hiks…hiks”. Seorang suster berusaha menenangkannya. Tapi Heni terus meronta memanggil ibunya.
Sesampainya di Rumah Sakit, ibu dibawa ke ruang UGD untuk dirawat selama beberapa hari. Heni menunggu di ruang tunggu dengan perasaan tak menentu.
“Ya Tuhan berikanlah kesembuhan untuk ibuku. Berikan dia umur panjang! Heni belum siap ditinggal ibu. Heni tidak tahu harus bagaimana tanpa ibu. Heni belum sempat membahagiakan ibu. Ya Tuhan berikanlah ibu kesehatan dan keselamatan. Amin !” do’a Heni dalam hati. Tiba – tiba ayah Heni datang, berlari tergesa – gesa dan mendapati Heni di ruang tunggu sedang menangis sendirian.
“Heni, bagaimana keaadan ibumu, nduk?” tanya ayah.
Heni menunjuk ruang UGD dia tidak bisa berkata apa – apa. Lidahnya kelu, matanya sembab. Dipandangnya Heni lekat – lekat dan dipeluknya erat – erat anak semata wayangnya itu. Ayah mencoba menenangkan Heni yang terlihat begitu terpukul atas kejadian tadi.
“Sudahlah Hen, jangan terus ditangisi! Ibu tidak akan apa – apa, ibumu orang yang kuat. Dia tidak akan meninggalkan kita hanya karena tertabrak motor. Tadi ayah sudah ke kantor polisi, orang yang menabrak ibumu sudah tertangkap dan sedang diproses. Kita berdoa saja, nduk!” kata ayahnya menenangkan Heni. Heni merasa sedikit terhibur dan ia berhenti menangis. Dia sadar seharusnya dia tidak boleh menangis, dia harus percaya pada ibu. Ibu tidak akan meninggalkannya sendirian. Heni dan ayah menunggu di ruang tunggu. kelihatannya Ibu belum juga sadar dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 8, Heni memilih untuk menginap di rumah sakit bersama ayahnya. Tak lama kemudian seorang dokter muda keluar dari kamar ibu dan bicara empat mata dengan ayah. Samar – samar Heni mendengarkan pembicaraan mereka.
“Bapak suami dari ibu Surina Ningsih?” kata dokter itu berusaha tenang.
“Ya dok, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya ayah agak cemas.
Dokter muda itu terdiam mencoba merangkai kata, “Maaf Pak! Saya tidak bisa menolong istri anda. Lukanya terlalu parah dan terjadi pendarahan hebat yang tidak bisa dihentikan,” kata dokter itu lirih.
“Jadi, maksud dokter istri saya sudah…,” ayah tak berani melanjutkan kata – katanya.
“Maaf , Pak. Saya sudah coba yang terbaik. Tapi Tuhan berkehendak lain,” kata dokter itu mencoba menenangkan.
“Innalillihiwa’innailaihiroji’un!” ayah menahan air matanya.
Heni terduduk, membisu di tempatnya. Tak mampu berkata apa – apa lagi. Ibunya telah pergi untuk selamanya. Ingin rasanya dia mati saja bersama ibunya.
“Ibu, ibu…ampuni Heni Bu! Ini semua gara – gara Heni. Tuhan, Heni aja yang mati. Ibu…heni belum sempat membasuh kakimu, belum sempat membanggakanmu, belum sempat memohon ampunanmu. Tuhan, kuatkan hatiku. Ampuni dosa ibuku. Terima dia di sisimu,” isaknya.
***
Ibu dimakamkan tepat saat hari ibu. Hari ibu tanpa ibu. Lalu apa yang akan dia lakukan ? Lombanya ditunda besok. Tapi tetap saja. Untuk siapa dia akan bernyanyi? Ibunya sudah pergi, tak mungkin ibu bisa melihatnya lagi.
Sesampainya di rumah Heni membuka lemari baju ibunya. Baju – baju milik ibu, disana masih melekat wangi tubuh ibunya. Dibuka rak sepatu ibu, berjejer sepatu – sepatu berpasangan dengan rapi milik ibunya. Ibu selalu memakai sepatu yang serasi dengan bajunya. Ibu selalu terlihat sempurna, Heni ingin seperti itu. Dilihatnya mesin jahit kesayangan ibunya. Gaun biru indah tergantung disampingnya. Baju itu buatan ibu. Secarik kertas tergeletak di atas mesin jahit tua kesayangan ibu, “Harus menang ya Hen! Ibu sudah buat gaun warna biru kesukaanmu,” begitulah kata surat itu.
Heni terduduk memeluk gaunnya. Menangis tersedu – sedu di sana. Ia mengerti sekarang, ibunya tidak mengizinkan dia membeli gaun yang dia lihat karena ibu sudah membuat kejutan yang lebih indah. Menyesal yang tak terlukiskan akan selalu menghantuinya. Lalu apa lagi? Tak ada ibu sebaik ibunya. Tak ada ibu yang sudi mengandungnya selama sembilan bulan. Tak ada ibu yang sudi menyusuinya selama dua tahun. Tak ada ibu sebaik ibunya, tak ada lagi. Tak akan ada yang bisa menggantikan ibunya. Heni menyesal, dia merasa sangat berdosa pada ibunya. Ingin rasanya dia menyusul ibunya untuk memohan ampun. Entah mengapa dia sangat ingin ibunya ada di sini. Dia ingin memeluknya.
***
Hari ini cerah, tapi tak seperti hati Heni. Heni mengikuti lomba itu. Terasa lama menunggu gilirannya. Heni ingin bernyanyi lagu ‘Bunda’ dengan iringan pianonya. Tapi untuk siapa lagu itu? Heni berharap Tuhan sudi menyampaikan lagu itu pada ibunya. Dan sampaikan salam sayang dan maaf yang berlimpah. Heni memenangkan lomba itu. Karena itulah pesan terakhir dari ibunya. Lalu untuk siapa hadiah yang dia dapatkan? Esoknya Heni dan ayah pergi ke makam ibu untuk mengirim do’a.
“Bu, Heni sudah menangin lomba itu. Hadiah ini harusnya untuk ibu. Tapi nggak akan ada gunanya lagi sekarang. Jadi, Heni kasi ayah aja. Selamat Hari ibu ya, Bu!” kata Heni pedih menahan air mata menatap kosong pada gunungan tanah yang baru digali kemarin lusa. Kata kata itu terasa getir di kerongkongannya. Bayangan ibunya juga menangis haru dan tersenyum di belakangnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Nana mengatakan...

nice story :)

Putri 'Kobo' mengatakan...

Makasi :D

Posting Komentar